~ BENANG MERAH ~
By: Nabilla Salsabilah Daulay
Pilihanku
hanya satu, yaitu kamu ya muslimahku. Aku mencintaimu karena Allah
SWT. Kita telah dipersatukan dengan
kekuatan cinta yang timbul dalam hati ini. Mari kita jaga rasa cinta ini dengan
ketulusan.
Suatu
cerita
yang terjadi di sebuah Desa Monota. Ada seorang pemuda yang sangat tampan dan
gagah. Pekerjaannya ialah beternak
sapi. Pemuda ini sangat tekun bekerja, tapi ia tak lupa beribadah kepada Tuhan
yang Maha Esa. Pemuda ini pandai sekali membagi waktu bekerja, beribadah, dan
mengurus ibundanya yang sedang sakit stroke.
Ayahnya telah meninggal pada saat ia berumur 15 tahun. Ayahnya terkena penyakit
stroke jua, sama seperti
ibundanya. Pemuda ini sangat menyayangi ibundanya. Apa yang dikatakan ibundanya
selalu ia turuti. Sang kakak pergi meninggalkan mereka berdua karena ia
beranggapan, ibunya sakit pasti akan mati sebentar lagi dan akhirnya ia memilih
untuk meninggalkan mereka berdua di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu
pepohonan.
Nama
sang pemuda ini ialah Muhammad Abramsy Muttaqien. Ayahnya yang memberi nama
ini, karena beliau ingin sekali anaknya menjadi seorang ustadz yang mengajarkan
ajaran-ajaran
agama islam. Muttaqien adalah nama kakeknya yang keturunan Mesir dan seorang
ulama besar di Mesir. Sayangnya beliau meninggal karena perperangan membela
agama islam. Subhanallah,, maka dari
itu sang ayah memberi nama anaknya dari nama kakeknya.
Di
pagi yang sangat cerah, Abramsy sedang menunaikan sholat subuh di masjid.
Tiba-tiba di dalam benak Abramsy, ada rasa sesuatu yang mengganjal saat ia
sedang berdo’a.
“Astagfirullahaladzim,,
ya allah ada apa ini?” pikirnya
dalam hati. Karena benaknya merasa gelisah, Abramsy segera pulang ke istana
mungilnya. Saat membuka pintu,, ia melihat ibundanya tidak dapat berbicara dan
ingin memanggil manggil anaknya yang baru pulang sholat subuh. Sayangnya tak
bersuara.
“Ya
allah ibu, ada apa bu?” tanyanya
panik. Sang ibu ingin berbicara dan berusaha mengucapkan kata kata, tapi
sayangnya tidak ada suara sedikit pun. Ia hanya bisa mangap-mangap
mengungkapkan kata. Abramsy, langsung memeluk sang ibundanya.
“Ya
allah ibu.. apa yang terjadi padamu?” ungkapnya sambil merintih dan
memeluk sang ibunya. Sang ibunda pun menangis
dan meraih telapak tangan Abramsy dan menulis sesuatu menggunakan telunjuknya.
“A
b r a m s y, s e p e r t i n y a s t r o k e i b u n a m b a h p a r a h!” ejanya sambil menangis.
Abramsy menggelengkan kepala dan berkata,,
“Mari
kita ke dokter sejenak bu! Agar lebih jelas apa yang terjadi!” ajaknya dengan sepenuh
hati. Ibunda pun mengangguk. Abramsy segera menggendong sang ibunda dengan
penuh rasa cinta.
Sesampainya
di puskesmas, Abramsy sibuk mencari dokter yang merawat sang ibunda dahulu.
Tetapi, saat mencari cari dokter itu tak kunjung datang. Tiba-tiba ada seorang
dokter perempuan yang menghampiri Abramsy dan sang ibunda.
“Permisi,
ada yang bisa saya bantu?” tanya
dokter perempuan ini dengan nada licik.
“Mana
dokter Andi? Dimana dia??” tanya
Abramsy sambil bentak bentak.
“Maaf
pak, tolong sabar sejenak,,”
“Tidak
bisa sabar lagi! Ibu saya, ibu saya butuh pertolongan dengan cepat! Dimana
dokter Andinya?” bentak
Abramsy, memotong pembicaraan dokter manis itu.
“Tenang
dulu pak! Dokter Andi tidak disini lagi! Dikarnakan masanya telah habis di desa
ini! Sebagai penggantinya, biarkan saya yang mengatasi dan meriksa ibunda
bapak! Mari bawa ke ruang saya pak?” ujarnya dengan tutur
kata yang kurang sopan,
sambil menunjukkan arah ruangan pemeriksaan. Abramsy sangat panik,
sampai-sampai sarung yang ia gunakan pun teremas remas saking paniknya.
Saat
dokter keluar dari ruangan itu, Abramsy segera berdiri dan bertanya bagaimana
keadaan sang ibunda tercinta.
“Bagaimana
keadaan ibu ku?” tanya
Abramsy khawatir. Dokter menghela nafas.
“Huhh.. strokenya sudah
semakin parah pak! Ibu ini
harus diberi pengobatan yang layak sekali. Bagaimana kalau ibumu, saya bawa ke Jakarta
agar dirawat dengan layak?” saran dokter dengan
menyatakan apa yang terjadi. Abramsy menunduk dan kebingungan menghadapi semua
ini.
“Selain
dibawa ke Jakarta, tidak ada tindakan lain ya?” tanya Abramsy keberatan.
“Di
desa ini, tidak ada pelayanan khusus! Hanya di Jakarta pak! Apa boleh buat?
Hanya itu solusi yang tepat!” ujarnya
sambil memalingkan wajah kesalnya.
“Berapakah
biaya yang harus dikenakan dok?” tanya
Abramsy ketakutan, karena tidak memiliki uang banyak.
“Mungkin,,
40 juta kurang/lebih!” ungkapnya
dengan ekspresi meyakinkan. Abramsy terkejut saat mendengar nominal uang yang
harus dikeluarkan untuk menyembuhkan sang ibunda tercinta. Ia terdiam dan
berkata,,
“Saya
tidak memiliki uang sebesar itu! Saya juga harus melamar seorang gadis!” ungkap Abramsy. Dokter
ini mengangguk mengerti keadaan si pemuda tampan ini.
“Kalau
begituh saya akan membantu anda! Asalkan ada syaratnya!” ujarnya licik.
“Apa
syaratnya dok?” tanya
Abramsy memastikan.
“Hm..
kamu harus nikahin aku? Bagaimana?” jawabnya enteng. Abramsy amat terkejut mendengarkan syarat yang diminta oleh
dokter cantik tapi licik ini. Abramsy telah janji kepada Annisah, bahwa ia akan
melamarnya seminggu lagi. Cinta Abramsy dan Annisah juga telah bersatu. Annisah
memang seorang gadis yang mengerti keadaan Abramsy. Abramsy jua telah menabung
untuk biaya lamaran hingga pernikahan kelak. Tetapi, sang ibu sakit dan
membutuhkan uang yang cukup besar. Kalau Abramsy menerima syarat yang
diungkapkan dokter cantik ini, pasti ibunda akan teratasi. Sayangnya, Annisah
tidak menjadi miliknya. Sedangkan Abramsy sangat mencintai Annisah, begitu pula
sebaliknya.
Abramsy
sangat bimbang saat ini.
“Bagaimana
boy? Apakah kamu sudah mendapat pilihan?” tanyanya.
“Beri
aku waktu 3 hari untuk menjawab semua ini!” pinta Abramsy.
“Oke
baiklah! Pikirkan itu baik baik ya? Ingat ibumu ini!” ujarnya.
Abramsy
pulang sambil menggendong sang ibu yang sangat ia cintai. Sesampainya di rumah,
Abramsy cerita kepada sang ibunda.
“Buk,
kata dokter itu ibu harus dibawa ke Jakarta. Untuk pengobatan agar ibu sembuh. Biayanya 40 juta buk, ada
keringanan dari dokter bu. Katanya kalau mau diatasi, aku harus menikahi dia
buk? Sedangkan seminggu lagi aku akan melamar Annisah buk? Gila
banget kan?” jelasnya panjang lebar. Sang
ibunda menangis,, hiks hiks hiks
“Sepertinya
aku harus sholat istikhoroh untuk meminta petunjuk kepada allah. Sebelumnya aku
berfikiran, demi ibu aku rela melakukan apa saja agar ibu sembuh! Itu sajah
yang aku mau.” ujar
Abramsy menunduk. Ibunda tersayang mengelus kepala Abramsy sambil menangis.
Abramsy segera mencium sang ibunda dengan penuh rasa kasih sayang.
Tiba-tiba,,
tokk tokk tokk
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumussalam..” saat dibuka pintunya,
ternyata yang datang ialah Annisah. Abramsy sangat terkejut, sampai-sampai ia
terjatuh saat mengetahui Annisah datang kemari.
“Ya
allah mas, kok malah jatuh sih?” tanya
gadis manis itu. Abramsy menatap mata Annisah hingga mengeluarkan air mata.
Annisah kebingungan sekali.
“Loh
kenapa mas menangis?” tanyanya
dengan lembut.
“Enggak
ada kok nis, masuk yuk kedalam!” ajak
Abramsy. Annisah segera masuk dan menyapa sang ibunda Abramsy yang tengah
terbaring lemah.
“Assalamualaikum
tante, gimana kabarnya?” tanya
Annisah sambil meraih tangan sang calon ibu mertua dengan sangat ramah. Dan
ternyata ibu tidak bisa berbicara. Annisah sangat terkejut, dan menoleh ke arah
Abramsy yang tengah menghapus air mata.
“Mas,,” panggilnya. Abramsy
segera mengatakan apa yang sedang terjadi.
“Bismillahirrohmanirrohim..
begini Annisah, kata dokter itu ibu harus dibawa ke Jakarta. Untuk pengobatan agar
ibu sembuh. Harganya 40 juta, ada keringanan dari dokter. Katanya kalau mau
diatasi, aku harus,,”
“Harus
apa mas??” Tanya Annisah penasaran.
“Mas..
Ha-harus
menikahi dia? Sedangkan seminggu lagi aku akan melamar kamu Annisah!
Hiks..hiks..” ujarnya
sambil menangis. Annisah pun mengeluarkan butir-butir air mata, tetapi Annisah
tegar. Ia menghela nafas..
“Huhh..
mas, coba dengarkan perkataanku ini! Mas lakukan sajah, demi ibu mas. A-a-a ku rela kok, ya aku
rela mas! Yang terpenting ibu mas sembuh, dan cinta suci kita ini telah kita rangkai
menjadi sebuah percintaan yang tulus untuk menerima apa yang akan terjadi! Dan akhirnya kekuatan
cinta kita diuji mas! Jikalau cinta kita tetap tulus dan bercinta karena allah!
Insha
allah, allah akan membantu kita. Percaya itu! Baiklah mas, aku pulang dulu ya?
Assalamualaikum,” pamitnya dengan wajah
yang sedih. Abramsy pun merasa bersalah, serta kebingungan menghadapi semua
ini. Tapi, ia mencoba untuk tenang dan berfikir secara sehat.
Hari
kedua pun berlanjut, setelah Abramsy melaksanakan sholat istikharah di malam hari, ia
bermimpi menikah dengan dokter itu. Ia pun ikhlas melaksanakan apa yang telah
allah berikan kepadanya.
“Buk,
allah mungkin menyuruhku untuk menikahi dokter itu! Yah, jika itu yang terbaik
aku akan melakukan apa saja demi dirimu ibundaku, sayang.” ujarnya lapang dada,
sambil memeluk erat seorang wanita tua yang tengah terbaring lemah. Sang ibunda
mengangguk dan mengeluarkan air mata.
Saat
itu juga, Abramsy langsung ke puskesmas tempat pengobatan ibundanya. Tapi, saat
sampai di puskesmas itu,, banyak polisi mengevakuasi di dalam puskesmas.
Abramsy tampak kebingungan. Tiba-tiba, polisi menggandeng seorang perempuan ber
jas putih yang tampak seperti baju dokter, dan berambut panjang.
“Lepaskannnn!!!! Lepaskan
akuuuu!!!” jeritnya sambil berusaha melepaskan tangannya dari jeratan tangan
polisi yang menggandeng kuat pergelangan tangannya. Saat melintas di hadapan
ku, dokter cantik itu berbicara sesuatu kepada Abramsy.
“Dengarkan, kamu harus
tetap menjadi milikku! Kamu tidak bolehh dimilikki siapa pun kecuali aku!” jeritnya sambil
berteriak. Abramsy tampak sangat kebingungan melihat kondisi yang terjadi. Saat masuk ke dalam, Abramsy menanyakan apa
yang terjadi kepada seorang perawat.
“Maaf,
apa yang terjadi disini?”
“Dokter
gila itu berbohong! Ternyata dia bukanlah seorang dokter, melainkan koruptor!
Dia kabur ke desa ini!”
Abramsy
menggelengkan kepala sambil mengucapkan,,
ASTAGFIRULLAHALADZIM mungkin ini adalah kemudahan dari allah untuk
melaksanakan amanahnya melamar Annisah. Segera Abramsy pulang ke rumah dan
menceritakan semua yang terjadi kepada ibundanya.
Dalam
benak Abramsy, “Aku
harus menemui Annisah sekarang! Ya benar, Annisah!” Abramsy pun segera minta
izin kepada sang ibunda untuk menemui Annisah.
Dengan
girangnya Abramsy menuju ke rumah Annisah. Di jalan menuju rumah Annisah, ia
berteriak,, “ANNISAHHHHH!!!!!!! I LOVE YOU”
Sesampainya di rumah Annisah,
Abramsy mengetuk pintu rumahnya.
Tokk,,
tokk,, tokk
Tiba-tiba
umi Annisah keluar membukakan pintu.
“Ohh,
Abramsy..”
“Annisah
ada mi?”
“Emm,
a..n..n..is..ah.. umm,, huhh,, merantau ke Jakarta nak bram!”
Abramsy
tampak sangat terkejud saat mengetahui ternyata Annisah merantau ke Jakarta.
Abramsy amat sangat cemas, karna seorang wanita yang ia nantikan pergi
meninggalkannya.
“Maaf
tante, kalau boleh tau mengapa Annisah merantau ke Jakarta? Bukannya minggu
depan ia akan aku lamar?” sang ibunda Annisah menetskan air mata. Tiba-tiba
amarahnya keluar,,
“Dasar
buaya darat kamu! Munafik! Pembohong! Karena kamu, anakku menangis terus
menerus dan tidak mau makan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi jauh
dari desa ini!” bentak sang ibunda, sambil mendorong Abramsy hingga terjatuh,,
seakan-akan terpelanting dari kejauhan yang membuat hatinya rapuh.
“Maafkan
saya tante, saya tidak pernah berfikir akan seperti ini jadinya?” sesal
Abramsy. Sang ibunda Annisah membanting pintu rumah dengan keras. Abramsy pun
tegar menghadapi semua ini, ia kembali pulang ke rumah.
Tiba-tiba
saat sampai di rumah,, assalamualaikum.. dilihatnya
sang ibunda sedang sujud, Sholat. 9 menit ditunggu, mengapa sang ibunda tidak
kelar juga?
Abramsy tampak keheranan, karna kekhawatiran itu muncul Abramsy memberanikan
diri untuk membangunkan sang ibunda yang sedang sujud, ia berfikir bahwa
ibundanya ketiduran saat sholat.
Saat
di bangunkan,, dubkkk... ini sungguh
kejadian yang tidak pernah terduga-duga, kejadian yang amat ditakuti oleh
Abramsy. Dia sungguh tak percaya, ternyata sang ibunda telah pergi
mendahuluinya lebih dahulu. Sangat tidak disangka, Abramsy sangat menyayangi
sang ibunda yang selalu ia jaga dan di sayang bagaikan belahan
jiwanya. Allahu akbar,, sungguh malang diri Abramsy yang hidup sebatang kara
dengan masalah yang bertumpuk-tumpuk.
Abramsy
menangis jerit sambil mencium sang ibunda yang telah tiada disampingnya lagi.
Begitu banyak kenangan yang ia ingat bersama sang ibunda, dirinya merasa resah
dan sangat kehilangan seorang sosok yang biasanya selalu bersamanya. Dengan
sigap, ia segera minta bantuan kepada tetangga disebelah.
Malam
itu, suasana sayu dengan lantunan ayat ayat Allah SWT. Abramsy berusaha tegar
dengan menghapuskan air matanya dengan kain lusuh yang tidak pernah diganti
karena tidak memiliki uang untuk membeli kain baru. Masih teringat bayangan tua
dan lusuh yang biasanya di malam hari mendengarkan Abramsy mengaji. Tapi kini,
tiada lagi yang mendengarkan ia mengaji, tiada lagi yang menunggu kehadiran
Abramsy saat pulang berternak, tiada lagi pula yang biasa Abramsy peluk dan
cium.
“Nak
bram, sabar ya! Sesungguhnya Allah telah memegang kelahiran, rezeki, jodoh, dan
kematian. Kamu harus tabah menghadapi cobaan ini ya nak!” butir-butir nasehat
dari mak cik, membuat Abramsy tegar dan ikhlas.
“Iya
mak cik, insha allah bram kuat.” jawabnya dengan senyum manisnya.
Tidak
terasa pengajian malam ketiga hari atas
meninggalnya sang ibunda Abramsy telah usai. Ia tampak mulai tegar dan ikhlas.
Setelah itu, ia berfikir untuk siapakah ia mencari nafkah? Ibunda telah tiada,
ia hanya hidup sebatang kara. Pernah terbesit di telinganya, “tak tahan dengan
hidup ini!” tetapi, Abramsy segera istighfar. Astagfirullahaladzim..
Tiba-tiba
saat ia membongkar-bongkar lemari, ternyata ada secarik kertas lusuh dan
tulisan yang tak begitu rapi, tapi setidaknya masih bisa dibaca. Saat dibukaa…. Jrenggg….
Untuk Abramsy, anak ibu tercinta..
ASSALAMUALAIKUM ANAKKU TERCINTA,
Pertama-tama, ibu minta maaf sebesar-besarnya jika ibu
tlah merepotkan kamu nak. Ibu hanya bisa mengungkapkan ini lewat tulisan, karna
ibu tidak bisa bicara langsung denganmu. Bram, ibu tau kalau kamu sangat sayang
dengan Annisah. Ibu minta maaf kalau misalnya ibu yang menjadi penghambat cinta
kamu dengan Annisah. Nak, ibu ndak tahu umur ibu ini sampai kapan. Kekuasaan
allah swt. Tiada yang bisa mengganggu gugat. Ibu punya tabungan yang sudah ibu
tabung dari 4 tahun yang lalu, untuk mencari dan melamar Annisah. Gunakan
dengan sebaik-baiknya ya nak! Lalu Jangan lupakan sholat, jangan pernah berpaling
dari agama islam, dan terakhir kejarlah cintamu dengan Annisah. Mungkin umur
ibu tidak lama lagi. Ibu tidak bisa berada disampingmu selamanya nak. Jaga
dirimu baik-baik. Jangan sampai terjerumus oleh godaan syaiton. Sudah dulu ya
surat dari ibu untukmu nak, semoga kamu menjadi lelaki hebat seperti yang
diinginkan oleh bapakmu dulu nak. Jadilah anak yang mandiri ya nak.
WASSALAMUALAIKUM SALAM SAYANG
IBU
Saat
membaca kertas lusuh itu, Abramsy langsung meneteskan air mata dan sekilas
membayangkan wajah lusuh sang ibunda tersayang. Dengan inisiatif Abramsy segera
membereskan baju-baju dan alat sholat ke dalam tas ransel yang sudah lusuh
pemberian dari alm. Bapaknya. Kemudian, tabungan itu ia peluk erat-erat dan
segera ia mengunci rumah yang penuh kenangan dengan sang keluarga. Ia
memutuskan untuk mencari Annisah, karena itu nasehat terakhir dari sang ibunda
sebelum meninggal.
Sesampainya
di halte bis, yang perjalanannya dari Desa Monota kira-kira 2 jam dengan naik
ojek mas Eno.
“Terima
kasih banyak ya mas! Doakan saya ya!”
“Pasti
Bram, selamat berjuang ya Bram!”
Abramsy
segera menaiki bis yang harga ekonomi karena uang serba kurang. Selama
perjalanan Abramsy membaca Al-qur’an dengan merdu, hingga penumpang yang
disebelahnya tidur dengan amat pulas karena merdunya suara Bram mengaji. Tapi,
ada pula penumpang yang marah karena berisik.
“Mas,
berisik banget ah! Mau tidur neh! Ribut ajah loh!”
Bram pun berhenti mengajinya. Ia mulai mencoba
untuk tidur.
Pagi
pun menyambut dengan sangat cerah, tak terasa Bram telah sampai di Kota
Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, Bram segera turun dari bis. Selanjutnya, ia
menghirup udara pagi yang menyambut kedatangannya. Setelah itu, Bram melihat
ada warung sarapan di depan halte bis. Dengan tanggap, ia segera menuju warung
itu dengan sangat semangat.
“Buk,
loteknya satu ya?” ujarnya, memesan makanan di warung sarapan itu.
“Baiklah,”
5
menit berlalu, pesanan Bram telah di buat.
“Terima
kasih ya buk..”
Setelah
selesai sarapan, Bram segera membayar dan ia siap untuk mencari Annisah yang
pergi begitu saja tanpa kabar. Bram mulai mencari Annisah tanpa ada jejak, atau
pun berita dimana keberadaan Annisah. Ia hanya tahu, bila Annisah merantau ke
Jakarta. Tapi ia tidak mengetahui alamat Annisah tinggal.
Tiba-tiba
saat Bram membuka dompetnya mengambil
uang untuk membeli peta Jakarta, ada seorang lelaki berbaju hitam yang di
belakang bajunya itu terdapat tulisan “Pencopet
Sejati” yang menggunakan penutup
kepala dan,,, “PENCOPET!!” Ia mengambil dompet Bram. Bram mencoba mengejarnya,
tetapi sayangnya pencopet itu lari dengan sangat cepat, sehingga Bram tak bisa
mengejarnya.
Bram
istighfar dengan hati ikhlas. Ia ingat bahwa masih ada sedikit uang di
ranselnya. Tapi, untuk biaya hidupnya pasti akan berkurang. Huhh… selanjutnya Bram mencari tempat
tinggal untuk dirinya. Ia berfikiran untuk meng-kost di daerah kota. Saat
pencarian kost-kostan, Bram mendengarkan suara adzan ashar. Segera ia mencari
masjid dan menunaikan sholat ashar.
Setelah
selesai sholat ashar, Bram melihat ada seorang perempuan berhijab sedang
melipat mukenahnya. Ia mencoba mengingat wajah wanita itu seperti,, “ANNISAH!!”
Segera
ia menanyakan wantita itu kepada Imam masjid ini.
“Assalamualaikum
ustadz, saya boleh bertanya?”
“Waalaikumussalam..
Insha allah boleh nak,”
“Em,
apakah ustadz mengenal wanita yang sedang melipat mukenah itu?” tanya Bram
sambil menunjukkan wanita itu ke imam masjid ini.
“Ohh,
muslimah itu?”
“Iya
ustadz,,”
“Itu
namanya Aisyah Maharani. Kenapa? Kamu mengenalnya?”
“Hah?
Aisyah? Na-na-ma-ma-ma nya bukan Annisah ustadz??”
“Oh
bukan, Annisah itu kakaknya.”
“Hah??
Annisah ada disini ustadz?”
“Annisah
siapa dulu?”
“Annisah
yang merantau ke Jakarta ini ustadz?”
“Oalah,
bukan. Kalau Annisah ini, memang asli Jakarta!”
Bram
pun mengerutkan keningnya tanda heran. Huih.. tetapi Bram tetap semangat
mencari Annisah hingga bertemu. Karena itu adalah amanah dari sang ibunda
tercinta. Selanjutnya Bram bertanya kembali.
“Maaf
ustadz saya ingin bertanya kembali? Boleh atau tidak ya?” tanyanya ragu.
“Boleh
dong nak, selagi bapak bisa menjawabnya.”
“Apakah
disini ada kost-kostan terdekat yang sederhana dan murah?”
“Ohh,
kalau disini banyak yang mahal nak, emangnya kamu dari mana?”
“Mahal?
Saya dari Desa Monota ustadz.”
“Walah,
dimana itu? Apakah kamu tidak memiliki kenalan disini? Kamu merantau ya?”
“Di
daerah Jawa Tengah ustadz. Saya tidak memiliki kenalan disini ustadz. Saya kemari
ingin mencari Annisah, calon istri yang mau saya lamar ustadz.”
“Loh,
kok kamu mencarinya sampai ke Jakarta? Dia kabur?”
“Bu-bu-bu
kan kabur ustadz. Tapi,,”
Bram terdiam sejenak dan melanjutkan penjelasannya ke
imam masjid ini.
“Masya
allah perjuanganmu nak. Kalau begitu untuk sementara kamu tinggal di rumah saya
saja, sampai bertemu dengan calon istrimu itu.”
“Subhanallah,
benar ustadz? Terima kasih banyak ustadz.”
“Iya,
iya.. Tapi, apakah kamu bisa mengumandangkan adzan?”
“Insha
allah bisa ustadz,”
“Baiklah,
tugasmu harus mengumandangkan adzan dan iqomah di masjid ya?”
“Siap
ustadz,”
“Baiklah,
mari ikut ke rumah saya.”
Sesampainya
di rumah imam masjid ini, Bram mengucapkan Subhanallah
karena ruamh ini amat besar. Bram memikirkan, mengapa pak ustadz ini ingin
menjadi imam masjid, padahal dirinya adalah orang berada dan orang yang amat
sibuk. Jawabannya adalah “Karena ustadz ini tidak ingin lupa apa yang telah
Allah berikan kepadanya.”
“Ini
kamarmu! Oh ya saya lupa menanyakan, namamu siapa?”
“Ohh..
Nama saya Muhammad Abramsy Muttaqien, panggil saja saya Bram, ustadz.”
“Baiklah
Bram. Selamat beristirahat ya?”
“Terima
kasih banyak ya ustadz,”
Selanjutnya
Bram pun istirahat. Ayam berkokok pun membanguni manusia di pagi hari. Sekarang
sudah jam 4.40 wib. Bram sudah siap untuk pergi ke masjid dan mengumandangkan
adzan.
Selesai
sholat, semua jama’ah bersalaman untuk saling meminta maaf satu sama lainnya.
Selanjutnya Bram pulang ke rumah imam masjid itu yang bernama ustadz Rajab.
Saat sampai di rumah itu, Bram terkejut melihat ada seorang wanita berhijab yang
tengah membuka pintu rumah. Ternyata, wanita itu adalah anak ustadz Rajab.
Cantik.
“Astagfirullahaladzim, afwan ya? Ana
sungguh terkejut melihat ada lelaki lain selain Abi.” Ujarnya sambil
menundukkan kepalanya, tanda menjaga hijab.
“Ia,
saya juga meminta maaf jika membuat anda terkejut.”
Bram
tersenyum dan segera pergi ke kamar untuk membaca kitab al-qur’an. Saat mentari
tengah muncul, Bram mengikuti ustadz Rajab ke toko lampu hias untuk menghias
rumah Allah SWT. Setelah memilih lampu yang hendak di beli, ustadz Rajab segera
membayar lampu hias berwarna putih yang ditengahnya terdapat kilauan Kristal.
Ketika
sampai di masjid, ada banyak anak sedang belajar mengaji dengan anak ustadz
Rajab dan,,, Bram terdiam melihat wanita yang ada disebelah anak ustadz Rajab
tersebut. Wanita itu amat mirip dengan Annisah..
“Huish,
Bram.. mengapa kamu melamun? Ntar disambet loh.. ayo bantu memasang lampu hias
ini di masjid!”
“Hahaa..
Okeh sip ustadz, let’s go!!”
Sampai
di dalam masjid, Bram terus menerus melirik wanita itu dengan wajah heran.
Tiba-tiba salah satu anak melihat Bram sedang menatap
wanita itu.
“Umi,
ada yang lagi liatin umi disana?” ujar anak itu sambil melirik kea rah Bram.
Wanita itu pun segera melirik lelaki itu jua. Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan
spidol yang di pegangnya ke lantai.
Trakk… wanita itu tampak terkejut, dan mélange melihat lelaki
dengan berpakaian sederhana itu. Tiba-tiba wanita itu menjerit,,
“Mas
Bram!!”
Bram
terkejut saat namanya di panggil oleh wanita yang firasatnya adalah Annisah.
Dengan sigap Bram mendekatinya dengan wajah heran.
“Ka-ka-kamu
A-a-nn-i-sah?” tanyanya sambil menunjuk wanita itu.
Wanita
itu mengeluarkan air mata rindu, dan menghapusnya dengan hijab putihnya.
Kemudian semua anak-anak yang berada disana terdiam dan melanga. Termasuk anak
ustadz Rajab tersebut.
“Ya
allah mas, kok kamu bisa disini mas?” tanyanya dengan wajah rindu.
“Justru
aku yang harus bertanya denganmu! Kenapa kamu pergi tanpa kabar? Kenapa kamu
tega ninggalin aku, disaat aku sedang dilanda kesusahan? Apa kamu sudah tidak
tahan? Padahal kamu sendiri yang bilang bahwa cinta kita ini tulus hanya karena
Allah SWT. Tapi kamu malah menghindar? Dokter itu ternyata koruptor!
Selanjutnya ibu meninggal! Dan terakhir kamu pergi dari sisiku? Aku hidup
sekarang sebatang kara nis! Kamu tega meninggalkan aku sendirian?” jelas Bram
sambil meneteskan air mata.
“Bu-bu
kan itu maksudku mas! Tapi,,”
“Alasan
apa lagi nis?”
“Maafkan
aku mas, bukan begitu maksudku! Dengarkan penjelasanku dulu mas!”
“Penjelasan
apa lagi ha!” bentak Bram yang sudah emosi tingkat tinggi.
“Izinkan
aku berbicara sejenak mas! Aku sangat tidak mengerti mengapa aku begitu emosi
saat mendengar bahwa mas ingin menikahi dokter itu! Jadi aku memutuskan untuk
pergi ke rumah pamanku mas. Tapi,,”
“Basi
penjelasanmu nis! Aku kemari untuk mencarimu dan melamarmu! Tapi rintangan
banyak sekali menghadangku!”
“Mas,
tapi a-aku sudah menikah.”
Bram
terdiam seolah-olah mulutnya terkunci dan tak bisa mengucapkan kata-kata lagi.
Semua orang yang berada di masjid itu menatap Annisah dan Bram dengan wajah
serius.
“Umi..
siapa om ini?” tanya salah satu anak yang tak lain adalah anak Annisah. Annisah
terdiam terpaku. Sedangkan Bram sudah mulai emosi. Ia sangat tidak menyangka
bahwa wanita yang ia cari-cari ternyata telah dimiliki orang lain. Sungguh
sesak rasanya. Ustadz Rajab mulai menenangkan hati Bram dengan membisikkan
lafadz istighfar.
“Hiks..
nak itu Abi. Kamu panggilnya Abi ya nak?” bisik Annisah ke anaknya. Suasana
semakin memanas. Tiba-tiba ada seorang lelaki memasuki masjid dengan tidak
melepas sepatu yang dikenakannya.
“Heh,
Annisah! Kenapa di rumah tidak ada makan ha?” tanya lelaki itu yang sangat
tidak sopan. Apakah itu suami Annisah? Ya benar, ia adalah suami Annisah.
Bram
heran, sepertinya ia pernah melihat lelaki ini, tapi dimana?
“Maaf
bang, saya belum ke rumah bu Riri untuk mengambil gaji. Saya masih mengajar
anak-anak mengaji!”
“Haish!
Dasar kamu ini!” bentaknya sambil menendang papan tulis. Semua orang berlarian
ketakutan. Bram mencoba untuk mengontrol emosinya. Kemudian ia ingat siapa
lelaki ini sebenarnya. Ia adalah pencopet yang mengambil dompetnya kemarin.
“Maaf,
sepertinya saya mengenal anda? Tolong jawab dengan jujur! Apakah anda yang
mengambil dompet saya waktu kemarin? Kalau anda tidak mengakui, maka anda akan
saya laporkan ke polisi atas tindakan KDRT, dan pencopet!” ancam Bram ke suami
Annisah yang ia yakin bahwa ialah yang mengambil dompetnya kemarin.
“H-haa..
fi-fi-t-nah itu! Jangan beraninya kamu menuduh tanpa ada bukti!” jawabnya
ketakutan.
“Siapa
bilang yang tidak memiliki bukti! Saya ada buktinya! Yaitu saya ingat baju yang
anda kenakan kemarin ada tulisan “Pencopet Sejati” dibelakang baju anda! Saya
juga memotretnya.”
Annisah sungguh menyesal menerima pernikahan dari si
pencopet ini.
Tak
lama kemudian polisi datang dan menangkap suami Annisah yang telah dinyatakan
melakukan perbuatan mencopet dan KDRT.
Annisah sungguh marah saat itu. Ia menyesal melepaskan perjanjian yang telah ia
sepakati dahulunya dengan Bram.
Annisah
pun meminta untuk diceraikan dan Bram merasa lega atas kasus ini. Selanjutnya
Annisah meminta maaf sebesar-besarnya kepada Bram.
“Ya,
memang itu tujuanku untuk datang kemari.”
Mereka
pun hidup bahagia, insha allah. Akhirnya Bram telah melaksanakan amanah dari
sang ibunda yang telah pergi mendahuluinya. Kemudian, diketahui ternyata dokter
yang meminta dinikahi oleh Bram adalah kakaknya sendiri. Sungguh tidak
menyangka ternyata sang kakak adalah anggota DPR yang kemudian ia korupsi. Sang
kakak lari ke Desa Monota, bermaksud ingin meminta bantuan, tetapi dengan cara
pura-pura menjadi dokter. Suami Annisah eh lebih tepatnya mantan suami Annisah
dikurung di penjara selama 20 tahun.
Bunyi
tepukan rebana terdengar di telinga. Burung merpati terbang dengan indanya.
Tarian adat Jawa mengiringi Annisah dan Bram menuju ke Plaminan. Pohon-pohon
menyambut dengan menggoyangkan tubuhnya. Berakhir bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar