Kamis, 30 Juli 2015

Cerpen remaja islami

~   BENANG MERAH  ~

By: Nabilla Salsabilah Daulay
           
            Pilihanku hanya satu, yaitu kamu ya muslimahku. Aku mencintaimu karena Allah SWT.  Kita telah dipersatukan dengan kekuatan cinta yang timbul dalam hati ini. Mari kita jaga rasa cinta ini dengan ketulusan.
            Suatu cerita yang terjadi di sebuah Desa Monota. Ada seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah. Pekerjaannya ialah beternak sapi. Pemuda ini sangat tekun bekerja, tapi ia tak lupa beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa. Pemuda ini pandai sekali membagi waktu bekerja, beribadah, dan mengurus ibundanya yang sedang sakit stroke. Ayahnya telah meninggal pada saat ia berumur 15 tahun. Ayahnya terkena penyakit stroke jua, sama seperti ibundanya. Pemuda ini sangat menyayangi ibundanya. Apa yang dikatakan ibundanya selalu ia turuti. Sang kakak pergi meninggalkan mereka berdua karena ia beranggapan, ibunya sakit pasti akan mati sebentar lagi dan akhirnya ia memilih untuk meninggalkan mereka berdua di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu pepohonan.
            Nama sang pemuda ini ialah Muhammad Abramsy Muttaqien. Ayahnya yang memberi nama ini, karena beliau ingin sekali anaknya menjadi seorang ustadz yang mengajarkan ajaran-ajaran agama islam. Muttaqien adalah nama kakeknya yang keturunan Mesir dan seorang ulama besar di Mesir. Sayangnya beliau meninggal karena perperangan membela agama islam. Subhanallah,, maka dari itu sang ayah memberi nama anaknya dari nama kakeknya.
            Di pagi yang sangat cerah, Abramsy sedang menunaikan sholat subuh di masjid. Tiba-tiba di dalam benak Abramsy, ada rasa sesuatu yang mengganjal saat ia sedang berdo’a.
            “Astagfirullahaladzim,, ya allah ada apa ini?” pikirnya dalam hati. Karena benaknya merasa gelisah, Abramsy segera pulang ke istana mungilnya. Saat membuka pintu,, ia melihat ibundanya tidak dapat berbicara dan ingin memanggil manggil anaknya yang baru pulang sholat subuh. Sayangnya tak bersuara.
            “Ya allah ibu, ada apa bu?” tanyanya panik. Sang ibu ingin berbicara dan berusaha mengucapkan kata kata, tapi sayangnya tidak ada suara sedikit pun. Ia hanya bisa mangap-mangap mengungkapkan kata. Abramsy, langsung memeluk sang ibundanya.
            “Ya allah ibu.. apa yang terjadi padamu?” ungkapnya sambil merintih dan memeluk sang ibunya. Sang ibunda pun menangis dan meraih telapak tangan Abramsy dan menulis sesuatu menggunakan telunjuknya.
            “A b r a m s y, s e p e r t i n y a s t r o k e i b u n a m b a h p a r a h!” ejanya sambil menangis. Abramsy menggelengkan kepala dan berkata,,
            “Mari kita ke dokter sejenak bu! Agar lebih jelas apa yang terjadi!” ajaknya dengan sepenuh hati. Ibunda pun mengangguk. Abramsy segera menggendong sang ibunda dengan penuh rasa cinta.
            Sesampainya di puskesmas, Abramsy sibuk mencari dokter yang merawat sang ibunda dahulu. Tetapi, saat mencari cari dokter itu tak kunjung datang. Tiba-tiba ada seorang dokter perempuan yang menghampiri Abramsy dan sang ibunda.
            “Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter perempuan ini dengan nada licik.
            “Mana dokter Andi? Dimana dia??” tanya Abramsy sambil bentak bentak.
            “Maaf pak, tolong sabar sejenak,,”
            “Tidak bisa sabar lagi! Ibu saya, ibu saya butuh pertolongan dengan cepat! Dimana dokter Andinya?” bentak Abramsy, memotong pembicaraan dokter manis itu.
            “Tenang dulu pak! Dokter Andi tidak disini lagi! Dikarnakan masanya telah habis di desa ini! Sebagai penggantinya, biarkan saya yang mengatasi dan meriksa ibunda bapak! Mari bawa ke ruang saya pak?” ujarnya dengan tutur kata yang kurang sopan, sambil menunjukkan arah ruangan pemeriksaan. Abramsy sangat panik, sampai-sampai sarung yang ia gunakan pun teremas remas saking paniknya.
            Saat dokter keluar dari ruangan itu, Abramsy segera berdiri dan bertanya bagaimana keadaan sang ibunda tercinta.
            “Bagaimana keadaan ibu ku?” tanya Abramsy khawatir. Dokter menghela nafas.
            “Huhh.. strokenya sudah semakin parah pak! Ibu ini harus diberi pengobatan yang layak sekali. Bagaimana kalau ibumu, saya bawa ke Jakarta agar dirawat dengan layak?” saran dokter dengan menyatakan apa yang terjadi. Abramsy menunduk dan kebingungan menghadapi semua ini.
            “Selain dibawa ke Jakarta, tidak ada tindakan lain ya?” tanya Abramsy keberatan.
            “Di desa ini, tidak ada pelayanan khusus! Hanya di Jakarta pak! Apa boleh buat? Hanya itu solusi yang tepat!” ujarnya sambil memalingkan wajah kesalnya.
            “Berapakah biaya yang harus dikenakan dok?” tanya Abramsy ketakutan, karena tidak memiliki uang banyak.
            “Mungkin,, 40 juta kurang/lebih!” ungkapnya dengan ekspresi meyakinkan. Abramsy terkejut saat mendengar nominal uang yang harus dikeluarkan untuk menyembuhkan sang ibunda tercinta. Ia terdiam dan berkata,,
            “Saya tidak memiliki uang sebesar itu! Saya juga harus melamar seorang gadis!” ungkap Abramsy. Dokter ini mengangguk mengerti keadaan si pemuda tampan ini.
            “Kalau begituh saya akan membantu anda! Asalkan ada syaratnya!” ujarnya licik.
            “Apa syaratnya dok?” tanya Abramsy memastikan.
            “Hm.. kamu harus nikahin aku? Bagaimana?” jawabnya enteng. Abramsy amat terkejut mendengarkan syarat yang diminta oleh dokter cantik tapi licik ini. Abramsy telah janji kepada Annisah, bahwa ia akan melamarnya seminggu lagi. Cinta Abramsy dan Annisah juga telah bersatu. Annisah memang seorang gadis yang mengerti keadaan Abramsy. Abramsy jua telah menabung untuk biaya lamaran hingga pernikahan kelak. Tetapi, sang ibu sakit dan membutuhkan uang yang cukup besar. Kalau Abramsy menerima syarat yang diungkapkan dokter cantik ini, pasti ibunda akan teratasi. Sayangnya, Annisah tidak menjadi miliknya. Sedangkan Abramsy sangat mencintai Annisah, begitu pula sebaliknya.
            Abramsy sangat bimbang saat ini.
            “Bagaimana boy? Apakah kamu sudah mendapat pilihan?” tanyanya.
            “Beri aku waktu 3 hari untuk menjawab semua ini!” pinta Abramsy.
            “Oke baiklah! Pikirkan itu baik baik ya? Ingat ibumu ini!” ujarnya.
            Abramsy pulang sambil menggendong sang ibu yang sangat ia cintai. Sesampainya di rumah, Abramsy cerita kepada sang ibunda.
            “Buk, kata dokter itu ibu harus dibawa ke Jakarta. Untuk pengobatan agar ibu sembuh. Biayanya 40 juta buk, ada keringanan dari dokter bu. Katanya kalau mau diatasi, aku harus menikahi dia buk? Sedangkan seminggu lagi aku akan melamar Annisah buk? Gila banget kan? jelasnya panjang lebar. Sang ibunda menangis,, hiks hiks hiks
            “Sepertinya aku harus sholat istikhoroh untuk meminta petunjuk kepada allah. Sebelumnya aku berfikiran, demi ibu aku rela melakukan apa saja agar ibu sembuh! Itu sajah yang aku mau.” ujar Abramsy menunduk. Ibunda tersayang mengelus kepala Abramsy sambil menangis. Abramsy segera mencium sang ibunda dengan penuh rasa kasih sayang.
            Tiba-tiba,, tokk tokk tokk
            “Assalamualaikum...
            “Waalaikumussalam.. saat dibuka pintunya, ternyata yang datang ialah Annisah. Abramsy sangat terkejut, sampai-sampai ia terjatuh saat mengetahui Annisah datang kemari.
            “Ya allah mas, kok malah jatuh sih?” tanya gadis manis itu. Abramsy menatap mata Annisah hingga mengeluarkan air mata. Annisah kebingungan sekali.
            “Loh kenapa mas menangis?” tanyanya dengan lembut.
            “Enggak ada kok nis, masuk yuk kedalam!” ajak Abramsy. Annisah segera masuk dan menyapa sang ibunda Abramsy yang tengah terbaring lemah.
            “Assalamualaikum tante, gimana kabarnya?” tanya Annisah sambil meraih tangan sang calon ibu mertua dengan sangat ramah. Dan ternyata ibu tidak bisa berbicara. Annisah sangat terkejut, dan menoleh ke arah Abramsy yang tengah menghapus air mata.
            “Mas,,” panggilnya. Abramsy segera mengatakan apa yang sedang terjadi.
            “Bismillahirrohmanirrohim.. begini Annisah, kata dokter itu ibu harus dibawa ke Jakarta. Untuk pengobatan agar ibu sembuh. Harganya 40 juta, ada keringanan dari dokter. Katanya kalau mau diatasi, aku harus,,”
“Harus apa mas??” Tanya Annisah penasaran.
“Mas.. Ha-harus menikahi dia? Sedangkan seminggu lagi aku akan melamar kamu Annisah! Hiks..hiks..” ujarnya sambil menangis. Annisah pun mengeluarkan butir-butir air mata, tetapi Annisah tegar. Ia menghela nafas..
            “Huhh.. mas, coba dengarkan perkataanku ini! Mas lakukan sajah, demi ibu mas. A-a-a ku rela kok, ya aku rela mas! Yang terpenting ibu mas sembuh, dan cinta suci kita ini telah kita rangkai menjadi sebuah percintaan yang tulus untuk menerima apa yang akan terjadi! Dan akhirnya kekuatan cinta kita diuji mas! Jikalau cinta kita tetap tulus dan bercinta karena allah! Insha allah, allah akan membantu kita. Percaya itu! Baiklah mas, aku pulang dulu ya? Assalamualaikum, pamitnya dengan wajah yang sedih. Abramsy pun merasa bersalah, serta kebingungan menghadapi semua ini. Tapi, ia mencoba untuk tenang dan berfikir secara sehat.
            Hari kedua pun berlanjut, setelah Abramsy melaksanakan sholat istikharah di malam hari, ia bermimpi menikah dengan dokter itu. Ia pun ikhlas melaksanakan apa yang telah allah berikan kepadanya.
            “Buk, allah mungkin menyuruhku untuk menikahi dokter itu! Yah, jika itu yang terbaik aku akan melakukan apa saja demi dirimu ibundaku, sayang. ujarnya lapang dada, sambil memeluk erat seorang wanita tua yang tengah terbaring lemah. Sang ibunda mengangguk dan mengeluarkan air mata.
            Saat itu juga, Abramsy langsung ke puskesmas tempat pengobatan ibundanya. Tapi, saat sampai di puskesmas itu,, banyak polisi mengevakuasi di dalam puskesmas. Abramsy tampak kebingungan. Tiba-tiba, polisi menggandeng seorang perempuan ber jas putih yang tampak seperti baju dokter, dan berambut panjang.
            “Lepaskannnn!!!! Lepaskan akuuuu!!!” jeritnya sambil berusaha melepaskan tangannya dari jeratan tangan polisi yang menggandeng kuat pergelangan tangannya. Saat melintas di hadapan ku, dokter cantik itu berbicara sesuatu kepada Abramsy.
            “Dengarkan, kamu harus tetap menjadi milikku! Kamu tidak bolehh dimilikki siapa pun kecuali aku!” jeritnya sambil berteriak. Abramsy tampak sangat kebingungan melihat kondisi yang terjadi.  Saat masuk ke dalam, Abramsy menanyakan apa yang terjadi kepada seorang perawat.
            “Maaf, apa yang terjadi disini?”
            “Dokter gila itu berbohong! Ternyata dia bukanlah seorang dokter, melainkan koruptor! Dia kabur ke desa ini!”
            Abramsy menggelengkan kepala sambil mengucapkan,, ASTAGFIRULLAHALADZIM mungkin ini adalah kemudahan dari allah untuk melaksanakan amanahnya melamar Annisah. Segera Abramsy pulang ke rumah dan menceritakan semua yang terjadi kepada ibundanya.
            Dalam benak Abramsy, “Aku harus menemui Annisah sekarang! Ya benar, Annisah!” Abramsy pun segera minta izin kepada sang ibunda untuk menemui Annisah.
            Dengan girangnya Abramsy menuju ke rumah Annisah. Di jalan menuju rumah Annisah, ia berteriak,, “ANNISAHHHHH!!!!!!! I LOVE YOU”
            Sesampainya di rumah Annisah, Abramsy mengetuk pintu rumahnya.
Tokk,, tokk,, tokk
            Tiba-tiba umi Annisah keluar membukakan pintu.
            “Ohh, Abramsy..”
            “Annisah ada mi?”
            “Emm, a..n..n..is..ah.. umm,, huhh,, merantau ke Jakarta nak bram!”
            Abramsy tampak sangat terkejud saat mengetahui ternyata Annisah merantau ke Jakarta. Abramsy amat sangat cemas, karna seorang wanita yang ia nantikan pergi meninggalkannya.
            “Maaf tante, kalau boleh tau mengapa Annisah merantau ke Jakarta? Bukannya minggu depan ia akan aku lamar?” sang ibunda Annisah menetskan air mata. Tiba-tiba amarahnya keluar,,
            “Dasar buaya darat kamu! Munafik! Pembohong! Karena kamu, anakku menangis terus menerus dan tidak mau makan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi jauh dari desa ini!” bentak sang ibunda, sambil mendorong Abramsy hingga terjatuh,, seakan-akan terpelanting dari kejauhan yang membuat hatinya rapuh.
            “Maafkan saya tante, saya tidak pernah berfikir akan seperti ini jadinya?” sesal Abramsy. Sang ibunda Annisah membanting pintu rumah dengan keras. Abramsy pun tegar menghadapi semua ini, ia kembali pulang ke rumah.
            Tiba-tiba saat sampai di rumah,, assalamualaikum.. dilihatnya sang ibunda sedang sujud, Sholat. 9 menit ditunggu, mengapa sang ibunda tidak kelar juga? Abramsy tampak keheranan, karna kekhawatiran itu muncul Abramsy memberanikan diri untuk membangunkan sang ibunda yang sedang sujud, ia berfikir bahwa ibundanya ketiduran saat sholat. 
            Saat di bangunkan,, dubkkk... ini sungguh kejadian yang tidak pernah terduga-duga, kejadian yang amat ditakuti oleh Abramsy. Dia sungguh tak percaya, ternyata sang ibunda telah pergi mendahuluinya lebih dahulu. Sangat tidak disangka, Abramsy sangat menyayangi sang ibunda yang selalu ia jaga dan di sayang bagaikan belahan jiwanya. Allahu akbar,, sungguh malang diri Abramsy yang hidup sebatang kara dengan masalah yang bertumpuk-tumpuk.
            Abramsy menangis jerit sambil mencium sang ibunda yang telah tiada disampingnya lagi. Begitu banyak kenangan yang ia ingat bersama sang ibunda, dirinya merasa resah dan sangat kehilangan seorang sosok yang biasanya selalu bersamanya. Dengan sigap, ia segera minta bantuan kepada tetangga disebelah.
            Malam itu, suasana sayu dengan lantunan ayat ayat Allah SWT. Abramsy berusaha tegar dengan menghapuskan air matanya dengan kain lusuh yang tidak pernah diganti karena tidak memiliki uang untuk membeli kain baru. Masih teringat bayangan tua dan lusuh yang biasanya di malam hari mendengarkan Abramsy mengaji. Tapi kini, tiada lagi yang mendengarkan ia mengaji, tiada lagi yang menunggu kehadiran Abramsy saat pulang berternak, tiada lagi pula yang biasa Abramsy peluk dan cium.
            “Nak bram, sabar ya! Sesungguhnya Allah telah memegang kelahiran, rezeki, jodoh, dan kematian. Kamu harus tabah menghadapi cobaan ini ya nak!” butir-butir nasehat dari mak cik, membuat Abramsy tegar dan ikhlas.
            “Iya mak cik, insha allah bram kuat.” jawabnya dengan senyum manisnya.
            Tidak terasa  pengajian malam ketiga hari atas meninggalnya sang ibunda Abramsy telah usai. Ia tampak mulai tegar dan ikhlas. Setelah itu, ia berfikir untuk siapakah ia mencari nafkah? Ibunda telah tiada, ia hanya hidup sebatang kara. Pernah terbesit di telinganya, “tak tahan dengan hidup ini!” tetapi, Abramsy segera istighfar. Astagfirullahaladzim..
            Tiba-tiba saat ia membongkar-bongkar lemari, ternyata ada secarik kertas lusuh dan tulisan yang tak begitu rapi, tapi setidaknya masih bisa dibaca. Saat dibukaa…. Jrenggg….
Untuk Abramsy, anak ibu tercinta..

            ASSALAMUALAIKUM ANAKKU TERCINTA,
Pertama-tama, ibu minta maaf sebesar-besarnya jika ibu tlah merepotkan kamu nak. Ibu hanya bisa mengungkapkan ini lewat tulisan, karna ibu tidak bisa bicara langsung denganmu. Bram, ibu tau kalau kamu sangat sayang dengan Annisah. Ibu minta maaf kalau misalnya ibu yang menjadi penghambat cinta kamu dengan Annisah. Nak, ibu ndak tahu umur ibu ini sampai kapan. Kekuasaan allah swt. Tiada yang bisa mengganggu gugat. Ibu punya tabungan yang sudah ibu tabung dari 4 tahun yang lalu, untuk mencari dan melamar Annisah. Gunakan dengan sebaik-baiknya ya nak! Lalu  Jangan lupakan sholat, jangan pernah berpaling dari agama islam, dan terakhir kejarlah cintamu dengan Annisah. Mungkin umur ibu tidak lama lagi. Ibu tidak bisa berada disampingmu selamanya nak. Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai terjerumus oleh godaan syaiton. Sudah dulu ya surat dari ibu untukmu nak, semoga kamu menjadi lelaki hebat seperti yang diinginkan oleh bapakmu dulu nak. Jadilah anak yang mandiri ya nak.
WASSALAMUALAIKUM                                                                                  SALAM SAYANG
                                                                                                                                    IBU
            Saat membaca kertas lusuh itu, Abramsy langsung meneteskan air mata dan sekilas membayangkan wajah lusuh sang ibunda tersayang. Dengan inisiatif Abramsy segera membereskan baju-baju dan alat sholat ke dalam tas ransel yang sudah lusuh pemberian dari alm. Bapaknya. Kemudian, tabungan itu ia peluk erat-erat dan segera ia mengunci rumah yang penuh kenangan dengan sang keluarga. Ia memutuskan untuk mencari Annisah, karena itu nasehat terakhir dari sang ibunda sebelum meninggal.
            Sesampainya di halte bis, yang perjalanannya dari Desa Monota kira-kira 2 jam dengan naik ojek mas Eno.
            “Terima kasih banyak ya mas! Doakan saya ya!”
            “Pasti Bram, selamat berjuang ya Bram!”
            Abramsy segera menaiki bis yang harga ekonomi karena uang serba kurang. Selama perjalanan Abramsy membaca Al-qur’an dengan merdu, hingga penumpang yang disebelahnya tidur dengan amat pulas karena merdunya suara Bram mengaji. Tapi, ada pula penumpang yang marah karena berisik.
            “Mas, berisik banget ah! Mau tidur neh! Ribut ajah loh!”
             Bram pun berhenti mengajinya. Ia mulai mencoba untuk tidur.
            Pagi pun menyambut dengan sangat cerah, tak terasa Bram telah sampai di Kota Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, Bram segera turun dari bis. Selanjutnya, ia menghirup udara pagi yang menyambut kedatangannya. Setelah itu, Bram melihat ada warung sarapan di depan halte bis. Dengan tanggap, ia segera menuju warung itu dengan sangat semangat.
            “Buk, loteknya satu ya?” ujarnya, memesan makanan di warung sarapan itu.
            “Baiklah,”
            5 menit berlalu, pesanan Bram telah di buat.
            “Terima kasih ya buk..”
            Setelah selesai sarapan, Bram segera membayar dan ia siap untuk mencari Annisah yang pergi begitu saja tanpa kabar. Bram mulai mencari Annisah tanpa ada jejak, atau pun berita dimana keberadaan Annisah. Ia hanya tahu, bila Annisah merantau ke Jakarta. Tapi ia tidak mengetahui alamat Annisah tinggal.
            Tiba-tiba saat Bram membuka dompetnya  mengambil uang untuk membeli peta Jakarta, ada seorang lelaki berbaju hitam yang di belakang bajunya itu terdapat tulisan “Pencopet Sejati”  yang menggunakan penutup kepala dan,,, “PENCOPET!!” Ia mengambil dompet Bram. Bram mencoba mengejarnya, tetapi sayangnya pencopet itu lari dengan sangat cepat, sehingga Bram tak bisa mengejarnya.
            Bram istighfar dengan hati ikhlas. Ia ingat bahwa masih ada sedikit uang di ranselnya. Tapi, untuk biaya hidupnya pasti akan berkurang. Huhh… selanjutnya Bram mencari tempat tinggal untuk dirinya. Ia berfikiran untuk meng-kost di daerah kota. Saat pencarian kost-kostan, Bram mendengarkan suara adzan ashar. Segera ia mencari masjid dan menunaikan sholat ashar.
            Setelah selesai sholat ashar, Bram melihat ada seorang perempuan berhijab sedang melipat mukenahnya. Ia mencoba mengingat wajah wanita itu seperti,, “ANNISAH!!”
            Segera ia menanyakan wantita itu kepada Imam masjid ini.
            “Assalamualaikum ustadz, saya boleh bertanya?”
            “Waalaikumussalam.. Insha allah boleh nak,”
            “Em, apakah ustadz mengenal wanita yang sedang melipat mukenah itu?” tanya Bram sambil menunjukkan wanita itu ke imam masjid ini.
            “Ohh, muslimah itu?”
            “Iya ustadz,,”
            “Itu namanya Aisyah Maharani. Kenapa? Kamu mengenalnya?”
            “Hah? Aisyah? Na-na-ma-ma-ma nya bukan Annisah ustadz??”
            “Oh bukan, Annisah itu kakaknya.”
            “Hah?? Annisah ada disini ustadz?”
            “Annisah siapa dulu?”
            “Annisah yang merantau ke Jakarta ini ustadz?”
            “Oalah, bukan. Kalau Annisah ini, memang asli Jakarta!”
            Bram pun mengerutkan keningnya tanda heran. Huih.. tetapi Bram tetap semangat mencari Annisah hingga bertemu. Karena itu adalah amanah dari sang ibunda tercinta. Selanjutnya Bram bertanya kembali.
            “Maaf ustadz saya ingin bertanya kembali? Boleh atau tidak ya?” tanyanya ragu.
            “Boleh dong nak, selagi bapak bisa menjawabnya.”
            “Apakah disini ada kost-kostan terdekat yang sederhana dan murah?”
            “Ohh, kalau disini banyak yang mahal nak, emangnya kamu dari mana?”
            “Mahal? Saya dari Desa Monota ustadz.”
            “Walah, dimana itu? Apakah kamu tidak memiliki kenalan disini? Kamu merantau ya?”
            “Di daerah Jawa Tengah ustadz. Saya tidak memiliki kenalan disini ustadz. Saya kemari ingin mencari Annisah, calon istri yang mau saya lamar ustadz.”
            “Loh, kok kamu mencarinya sampai ke Jakarta? Dia kabur?”
            “Bu-bu-bu kan kabur ustadz. Tapi,,”
Bram terdiam sejenak dan melanjutkan penjelasannya ke imam masjid ini.
            “Masya allah perjuanganmu nak. Kalau begitu untuk sementara kamu tinggal di rumah saya saja, sampai bertemu dengan calon istrimu itu.”
            “Subhanallah, benar ustadz? Terima kasih banyak ustadz.”
            “Iya, iya.. Tapi, apakah kamu bisa mengumandangkan adzan?”
            “Insha allah bisa ustadz,”
            “Baiklah, tugasmu harus mengumandangkan adzan dan iqomah di masjid ya?”
            “Siap ustadz,”
            “Baiklah, mari ikut ke rumah saya.”
            Sesampainya di rumah imam masjid ini, Bram mengucapkan Subhanallah karena ruamh ini amat besar. Bram memikirkan, mengapa pak ustadz ini ingin menjadi imam masjid, padahal dirinya adalah orang berada dan orang yang amat sibuk. Jawabannya adalah “Karena ustadz ini tidak ingin lupa apa yang telah Allah berikan kepadanya.”
            “Ini kamarmu! Oh ya saya lupa menanyakan, namamu siapa?”
            “Ohh.. Nama saya Muhammad Abramsy Muttaqien, panggil saja saya Bram, ustadz.”
            “Baiklah Bram. Selamat beristirahat ya?”
            “Terima kasih banyak ya ustadz,”
            Selanjutnya Bram pun istirahat. Ayam berkokok pun membanguni manusia di pagi hari. Sekarang sudah jam 4.40 wib. Bram sudah siap untuk pergi ke masjid dan mengumandangkan adzan.
            Selesai sholat, semua jama’ah bersalaman untuk saling meminta maaf satu sama lainnya. Selanjutnya Bram pulang ke rumah imam masjid itu yang bernama ustadz Rajab. Saat sampai di rumah itu, Bram terkejut melihat ada seorang wanita berhijab yang tengah membuka pintu rumah. Ternyata, wanita itu adalah anak ustadz Rajab. Cantik.
            “Astagfirullahaladzim, afwan ya? Ana sungguh terkejut melihat ada lelaki lain selain Abi.” Ujarnya sambil menundukkan kepalanya, tanda menjaga hijab.
            “Ia, saya juga meminta maaf jika membuat anda terkejut.”
            Bram tersenyum dan segera pergi ke kamar untuk membaca kitab al-qur’an. Saat mentari tengah muncul, Bram mengikuti ustadz Rajab ke toko lampu hias untuk menghias rumah Allah SWT. Setelah memilih lampu yang hendak di beli, ustadz Rajab segera membayar lampu hias berwarna putih yang ditengahnya terdapat kilauan Kristal.
            Ketika sampai di masjid, ada banyak anak sedang belajar mengaji dengan anak ustadz Rajab dan,,, Bram terdiam melihat wanita yang ada disebelah anak ustadz Rajab tersebut. Wanita itu amat mirip dengan Annisah..
            “Huish, Bram.. mengapa kamu melamun? Ntar disambet loh.. ayo bantu memasang lampu hias ini di masjid!”
            “Hahaa.. Okeh sip ustadz, let’s go!!”
            Sampai di dalam masjid, Bram terus menerus melirik wanita itu dengan wajah heran.
Tiba-tiba salah satu anak melihat Bram sedang menatap wanita itu.
            “Umi, ada yang lagi liatin umi disana?” ujar anak itu sambil melirik kea rah Bram. Wanita itu pun segera melirik lelaki itu jua. Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan spidol yang di pegangnya ke lantai.
Trakk… wanita itu tampak terkejut, dan mélange melihat lelaki dengan berpakaian sederhana itu. Tiba-tiba wanita itu menjerit,,
            “Mas Bram!!”
            Bram terkejut saat namanya di panggil oleh wanita yang firasatnya adalah Annisah. Dengan sigap Bram mendekatinya dengan wajah heran.
            “Ka-ka-kamu A-a-nn-i-sah?” tanyanya sambil menunjuk wanita itu.
            Wanita itu mengeluarkan air mata rindu, dan menghapusnya dengan hijab putihnya. Kemudian semua anak-anak yang berada disana terdiam dan melanga. Termasuk anak ustadz Rajab tersebut.
            “Ya allah mas, kok kamu bisa disini mas?” tanyanya dengan wajah rindu.
            “Justru aku yang harus bertanya denganmu! Kenapa kamu pergi tanpa kabar? Kenapa kamu tega ninggalin aku, disaat aku sedang dilanda kesusahan? Apa kamu sudah tidak tahan? Padahal kamu sendiri yang bilang bahwa cinta kita ini tulus hanya karena Allah SWT. Tapi kamu malah menghindar? Dokter itu ternyata koruptor! Selanjutnya ibu meninggal! Dan terakhir kamu pergi dari sisiku? Aku hidup sekarang sebatang kara nis! Kamu tega meninggalkan aku sendirian?” jelas Bram sambil meneteskan air mata.
            “Bu-bu kan itu maksudku mas! Tapi,,”
            “Alasan apa lagi nis?”
            “Maafkan aku mas, bukan begitu maksudku! Dengarkan penjelasanku dulu mas!”
            “Penjelasan apa lagi ha!” bentak Bram yang sudah emosi tingkat tinggi.
            “Izinkan aku berbicara sejenak mas! Aku sangat tidak mengerti mengapa aku begitu emosi saat mendengar bahwa mas ingin menikahi dokter itu! Jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumah pamanku mas. Tapi,,”
            “Basi penjelasanmu nis! Aku kemari untuk mencarimu dan melamarmu! Tapi rintangan banyak sekali menghadangku!”
            “Mas, tapi a-aku sudah menikah.”
            Bram terdiam seolah-olah mulutnya terkunci dan tak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Semua orang yang berada di masjid itu menatap Annisah dan Bram dengan wajah serius.
            “Umi.. siapa om ini?” tanya salah satu anak yang tak lain adalah anak Annisah. Annisah terdiam terpaku. Sedangkan Bram sudah mulai emosi. Ia sangat tidak menyangka bahwa wanita yang ia cari-cari ternyata telah dimiliki orang lain. Sungguh sesak rasanya. Ustadz Rajab mulai menenangkan hati Bram dengan membisikkan lafadz istighfar.
            “Hiks.. nak itu Abi. Kamu panggilnya Abi ya nak?” bisik Annisah ke anaknya. Suasana semakin memanas. Tiba-tiba ada seorang lelaki memasuki masjid dengan tidak melepas sepatu yang dikenakannya.
            “Heh, Annisah! Kenapa di rumah tidak ada makan ha?” tanya lelaki itu yang sangat tidak sopan. Apakah itu suami Annisah? Ya benar, ia adalah suami Annisah.
            Bram heran, sepertinya ia pernah melihat lelaki ini, tapi dimana?
            “Maaf bang, saya belum ke rumah bu Riri untuk mengambil gaji. Saya masih mengajar anak-anak mengaji!”
            “Haish! Dasar kamu ini!” bentaknya sambil menendang papan tulis. Semua orang berlarian ketakutan. Bram mencoba untuk mengontrol emosinya. Kemudian ia ingat siapa lelaki ini sebenarnya. Ia adalah pencopet yang mengambil dompetnya kemarin.
            “Maaf, sepertinya saya mengenal anda? Tolong jawab dengan jujur! Apakah anda yang mengambil dompet saya waktu kemarin? Kalau anda tidak mengakui, maka anda akan saya laporkan ke polisi atas tindakan KDRT, dan pencopet!” ancam Bram ke suami Annisah yang ia yakin bahwa ialah yang mengambil dompetnya kemarin.
            “H-haa.. fi-fi-t-nah itu! Jangan beraninya kamu menuduh tanpa ada bukti!” jawabnya ketakutan.
            “Siapa bilang yang tidak memiliki bukti! Saya ada buktinya! Yaitu saya ingat baju yang anda kenakan kemarin ada tulisan “Pencopet Sejati” dibelakang baju anda! Saya juga memotretnya.”
Annisah sungguh menyesal menerima pernikahan dari si pencopet ini.
            Tak lama kemudian polisi datang dan menangkap suami Annisah yang telah dinyatakan melakukan perbuatan mencopet dan KDRT. Annisah sungguh marah saat itu. Ia menyesal melepaskan perjanjian yang telah ia sepakati dahulunya dengan Bram.
            Annisah pun meminta untuk diceraikan dan Bram merasa lega atas kasus ini. Selanjutnya Annisah meminta maaf sebesar-besarnya kepada Bram.
            “Ya, memang itu tujuanku untuk datang kemari.”
Mereka pun hidup bahagia, insha allah. Akhirnya Bram telah melaksanakan amanah dari sang ibunda yang telah pergi mendahuluinya. Kemudian, diketahui ternyata dokter yang meminta dinikahi oleh Bram adalah kakaknya sendiri. Sungguh tidak menyangka ternyata sang kakak adalah anggota DPR yang kemudian ia korupsi. Sang kakak lari ke Desa Monota, bermaksud ingin meminta bantuan, tetapi dengan cara pura-pura menjadi dokter. Suami Annisah eh lebih tepatnya mantan suami Annisah dikurung di penjara selama 20 tahun.

Bunyi tepukan rebana terdengar di telinga. Burung merpati terbang dengan indanya. Tarian adat Jawa mengiringi Annisah dan Bram menuju ke Plaminan. Pohon-pohon menyambut dengan menggoyangkan tubuhnya. Berakhir bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar